Tahun ke tujuh.

Hari ini, tepat tujuh tahun lalu ketika kelasku disambangi seorang tetangga, memanggilku pulang saat pelajaran Agama berlangsung, memberikanku kabar yang sangat tidak mengenakkan.

Yah.

Hari ini adalah tepat tujuh tahun saya dan kakak-kakak resmi menjadi anak yatim piatu.

Ah, jangan berharap saya akan bercerita sesuatu yang sedih.

Toh nyatanya hidup saya sudah cukup sedih, maka tidak untuk tulisanku.

Aku, kini masih tertatih. Kadang aku terbangun tengah malam, dan nyatanya masih berharap bahwa aku tidur masih di samping mamah dan bapak. Tapi hati dan mungkin mata ini sudah terlalu lelah untuk bertanya juga meneteskan airnya. Meski belum menemukan sebuah keikhlasan hakiki, saya selalu saja berusaha untuk menerima semuanya. Menerima. Dan menerima. Meski nyelekit itu masih ada.

Ah iya, Bapak. Jika saja Bapak masih hidup, ada banyak hal yang bapak bangga dari kami, anak-anakmu.

Dg ngimi, si anak pertama, kini telah memiliki 3 orang lelaki yang semua namanya berawalan R. 3R aku menyebutnya. Rezky, Rifky dan Rayyan. Rezky, tumbuh dengan sifat seperti dirimu, yang keras kepala dan ngambekan. Mirip dengan bapak. Kini ia berada di kelas 5 SD, sudah besar, tahun lalu sudah disunat. Dia rajin ke masjid untuk mengaji, dia bahkan akan menangis jika ketiduran dan tidak pergi mengaji. Rifky? Sekarang berumur 5 tahun, menjelang usia sekolah. Diantara bersaudara, Rifky lah yang memiliki sifat seperti mamah yang humble ke semua orang. Meski gigi depannya sebagian di makan ulat, celotehnya selalu saja membuat tertawa. Polos dan banyak Tanya. Tak jarang, dia takut untuk di tinggal sendiri dalam sebuah ruangan. Jadi jika mama dan bapaknya kerja, dan saya ada dirumah, dia akan mengekor kemanapun saya pergi. Meski hanya untuk cuci piring. Rayyan? Ah, dia masih 9 bulan. Giginya sudah tumbuh 5 buah. Sudah merangkak kemana-mana. Ukuran badannya kecil jika di bandingkan dengan anak seusianya tapi kekuatannya? Jangan ragukan. Dia hiperaktif dan tidak suka tidur. Dia membuatku selalu merasa rindu rumah. Meski definisi rumah bagiku sudah kabur saat ini.

Nah, Dg Nyengka si anak kedua. Sudah memiliki 2 orang anak. Sepasang. Yang pertama, wajahnya mirip denganku sewaktu kecil. Fadiyah. Imut, lucu, hitam tapi betul-betul manis. Dia, meski lebih muda dari Rifky, nyatanya lebih pintar. Dia sudah pandai menulis, dulu cita-citanya menjadi dokter gigi, tapi entah kenapa berubah sekarang menjadi “hanya” dokter. Haha. Adiknya, Fathir. Masih berumur 1 bulan menjelang 2 bulan. Pipinya gempal, ciri-ciri dia bakal memiliki badan seperti Caa. Besar dan tinggi. Dia selalu saja tidur di saat siang hari dan akan bangun ketika malam hari. Kelelawar.

Caa, atau Dg Sewang, si Anak ketiga. Kini, ia telah berkeluarga, meski belum memiliki anak. Dia baru saja menikah, Oktober lalu. Anak bapak dan mamak yang selalu kalian khawatirkan nyatanya  kini telah menjadi seorang kepala rumah tangga. Bekerja di salah satu bank nasional meski jauh di Malakaji sana.

Nah, terakhir saya. Hahah. Kini, anak bungsu mu telah menginjak umur 21 tahun. Resmi menyandang status Sarjana desember lalu. Meski belum terjun di dunia kerja secara langsung karena anak bungsu mu ini masih menungggu jadwal koass. Yap. Diantara 4 bersaudara, akhirnya hanya aku yang bergerak dunia medis, beda jalur dengan bapak yang bergerak di pendidikan. Tapi tenang saja, saya sedang menyusun rencana untuk mengambil bidang pendidikan kesehatan. Hingga kenangan tentang bapak masih akan saya simpan. Oh iya, anak bapak ini sudah ada yang minta disimpankan oleh tante Cowa. Hahaha. Lucu sih mengingat fakta ternyata saya adalah gadis tertua di antara bersepupu yang belum menikah. Haha. Lagi-lagi saya ngebet sama nikah.

Kini, saya masih saja bertanya tentang arti kata ikhlas. Meski pada ujung pencarian ku, masih terlihat buram dalam pandangan. Saya terkadang masih saja menangis saat naik motor dan hujan turun, agar ada alasan ketika ditanya kenapa mata saya merah. Juga saya terkadang masih bangun tengah malam (seperti saat ini) lantas merasa hampa. Kosong. Juga masih ada perasaan nyelekit ketika berhadapan sesuatu yang mengingatkan pada kalian berdua. Ah, saya masih terus mencari kata ikhlas itu. Tapi waktu tak akan pernah terulang, bukan? Jadi saya hanya akan mencoba menerima. Lagi-lagi menerima semuanya.

Sudahlah. Ini hanya sedikit catatan di 7 tahun kepergian bapak. Yang ingin aku katakan adalah meski hidup kami fluktuatif, tapi kami baik-baik saja disini. Selalu mendoakan agar bapak dan mamak juga bahagia disana, hingga kita semua dijadwalkan untuk bertemu kembali.

Peluk dan sayangku kepada kalian, dari gadis bungsumu yang selalu saja dianggap masih anak-anak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s